3 Hari Wisata singkat di Yogyakarta dengan DusunMerapi

Santap malam di sentra Gudeg Wijilan, yang lokasinya dekat dengan kompleks Keraton, berhasil membuatku, anakku yang baru usai SMA dan Ibunya mulai merasakan sambutan hangat atas liburan kami. Aku makin senang, sebab anakku untuk pertama kalinya bisa menandaskan makanan tradisionil itu. Selama ini favoritnya adalah makanan modern ala Barat dan Jepang.

Hari kedua diawali dengan Lava-Tour ke Gunung Merapi yang terkenal. Sampai di Kaliurang yang sejuk segar, kami naik Jip Willys ala tentara tahun 1950an yang sudah dilengkapi dengan mesin modern. Luar biasa asyik, menerjang jalur2 sulit di lereng Merapi ke arah puncaknya yang terkenal ganas. Bekas bekas letusan terakhirnya di tahun 2010 menghancurkan banyak rumah dan pepohonan, namun sekaligus menyuburkan lingkungan Merapi yang serba hijau dengan tanaman muda. Sepanjang jalan tampak betapa dasyatnya kekuatan Merapi. Ada penduduk yang kreatif membuka musium di bekas rumah pribadinya dengan memperagakan sisa rangka hewan dan barang2 miliknya yang dilanda oleh Wedhus Gembel (awan pyroclastic yang bisa mencapai suhu 600 derajat celcius), sehingga jarum jam dinding langsung meleleh dan menyatu ke dinding dibelakangnya mengabadikan peristiwa dasyat itu. Kesan sensasionil dari saksi bisu kedigjayaan alam ini sangat dalam.
Setelah makan siang, wisata dilanjutkan ke Candi Borobudur, yang kebesaran dan ketenarannya tidak pernah pudar, terbukti dari amat membludaknya para turis, baik lokal maupun mancanegara. Pengunjung harus antri naik maupun turun. Kemasyhuran ini sekaligus menjadi sumber penghasilan bagi penduduk sekitar, yang mendirikan sedikitnya seribu kios dengan aneka dagangan. Pengunjung yang usai berwisata di puncak candi, turunnya diarahkan kesatu-satunya jalan melewati lorong2 yang diapit kios2 pedagang, yang giat menawarkan dagangannya namun tidak terasa memaksa. Ini hal yang dapat dinilai positif.

Hari ketiga kami menuju Gua Pindul, yakni gua kapur prasejarah, yang di dalamnya berupa sungai dengan panjang 350 m. Untuk memasukinya, kita mencebur ke kolam dengan duduk/tiduran di atas ban dalam, lalu sambil bergandengan tangan dipimpin oleh para pemandu di barisan paling depan dan paling belakang memasuki gua. Sangat asyik menyenangkan. Ada kristal2 tergantung, stalaktit2 dengan air menetes yang konon berkhasiat mengawet mudakan orang, kelelawar pemakan serangga yang bergantungan, dan setelah melewati ruang dengan kegelapan abadi maka barisan tiba di kolam besar yang sejuk dan banyak wisatawan yang bergiliran lompat terjun ke kolam. Gua Pindul ini sangat mengesankan, lebih bagus daripada gua2 sejenis di Selandia Baru yang terkenal dan menjadi obyek utama wisatawan di sana. Letaknya memang agak jauh, 2 jam lebih dari Yogya ke arah Gunung Kidul. Menurut pemandunya, baru 2 tahun dikelola atas dorongan Pak Dahlan Iskan yang berkunjung ke sana. Kesan menyenangkan sudah muncul sejak 15 menit sebelum sampai di Gua Pindul, ketika remaja2 berboncengan motor menyapa ramah dan menawarkan diri untuk mengantar ke tujuan sambil berkata: Gratis pak, free of charge; dan memang benar, setelah membayar karcis resmi, antri tertib dan dipanggil satu-satu untuk diberi jaket pelampung, sama sekali tidak ada tambahan biaya lagi. Satu-satunya kekurangan yang rada fatal adalah kamar ganti pakaian yang sangat sedikit dan kurang bersih, padahal ini kebutuhan mutlak sebab setiap wisatawan harus ganti pakaian yang basah kuyup setelah keluar dari gua. Akibatnya, paling sedikit harus menunggu setengah jam. Mungkin pula, ini akibat musim liburan, sehingga pengunjung berlebihan.

Di perjalanan kembali ke Yogya, tidak jauh dari Gua Pindul ada rumah makan sederhana, khusus nasi merah. Ramainya bukan main. Dan memang nasi merahnya berikut lauknya sangat enak, jauh lebih enak daripada yang biasa ditemui di restaurant dengan menu tradisionil di Jakarta. Kelapa mudanya (tanpa gula) terasa manis menyegarkan.

Sore kami ke Samigaluh untuk mengunjungi keluarga sahabat, di puncak Gunung A di Desa Ngargosari. Perjalanan naik-turun gunung yang tidak kurang mengesankan dengan sambutan tulus dari keluarga sederhana yang khusus memotong seekor ayam kampung dan memasak sayur untuk kami. Ternyata masakan sederhana itupun juga sangat bisa dinikmati, berbeda dengan masakan kota, namun lebih segar dan alami.

Malam hari terakhir di kota Yogya kami menikmati pecel diseling oleh bir kopi (kofie beer) dan temulawak, yang poluler dan digemari sebelum tahun 1970 an. Sekali lagi, sulit diceritakan nikmatnya.

Berwisata di dalam negeri, seperti di sekitar Yogyakarta ini, sungguh menyenangkan dan memuaskan. Apalagi bagi yang menggemari makanan tempo dulu atau kuliner tradisionil, kesan dan sensasi kenikmatannya dipacu oleh gelora nostalgia. Dan dari sudut biaya, tentu lebih murah daripada wisata ke luar negeri, yang kelebihannya cuma pada infrastruktur wisata yang sudah lebih rapi dan lebih banyak fasilitasnya.

Satu faktor yang menunjang kepuasan kami adalah berkat penyelenggaraan oleh www.dusunmerapi.com , yang mengaturkan paket wisata kami, dengan program yang terencana dengan baik/efisien, mengatur penjemputan di Bandara dan transpor dengan supir yang baik dan jujur, termasuk pemandu Tour-Merapi dan pengemudi Jip Willys yang ramah dan profi.


Foto Terkait

Trio-angels-with-Jip-Willys
Trio angels with Jip Willys
Trio-Angels-at-Lava-Merapi
Trio Angels at Lava Merapi
Trio-Angels-at-Goa-Pindul
Trio Angels at Goa Pindul
Pak-Ryandi-&-Fam-@Pecel-Solo
Pak Ryandi & Fam @Pecel Solo
Happy-with-DusunMerapi
Happy with DusunMerapi